Minggu, 25 September 2011

KEPAS (Kisah Orang-orang Perbatasan: Novel) (3)



Kelapa di hutan Karakelang hingga ke pulau-pulau sekitar menjadi gundul. Jika dipandang di waktu bulan purnama tampak seperti hantu Kabanasa dengan bulu-bulu kasar di kepalanya yang menjulang tinggi. Keadaan ini membuat orang-orang makin resah.  Orang-orang mendesak Datu Mbanua menggelar Sawakka. Tapi tradisi profan magi itu sudah lama tak di gelar di kepulauan ini. Para misionery pada awal abad 19 menuding tradisi itu sebagai kekafiran.  Kalangan gereja pun  menentang ritual itu. Tapi meskipun dapat penentangan, Sawakka akhirnya digelar.

Saatnya pun tiba. Aku di sana ketika bunyi tambor dan breng-breng bertingkah-tingkah mungusik malam dalam rimba. Ini hari pertama. Perkemahan sudah di bangun. Mesbah ritual pun sudah tersedia. Semua itu disiapkan selama berhari-hari dengan mengikuti aturan-aturan tradisi yang ketat. Tak ada yang boleh keliru. Sebagian besar penduduk pulau ini pun ada di sana. Dari pulau-pulau lain perwakilannya juga hadir.

KEPAS (Kisah Orang-orang Perbatasan: Novel) (2)

BAGIAN  : I

September 1965

“Upung-upung Baroa
Anggile u wae”
Tak ada! Kecuali air mata
Maka ditulisnya keluh kesah
Suara hati suatu generasi yang selalu terlupa

 
(4)

Ambang abad 21
Kepada Siapapun Yang Masih Punya Air Mata
Dan Serpih Belas kasihan

PIL SAKIT KEPALA (Puisi Iverdixon Tinungki)

Ada jutaan pil sakit kepala
Berjalan-jalan di jalan-jalan utama kota
Pil-pil itu datang dari segala mata angin
Mereka membawakan spanduk dan yel-yel bertulisan
“kami barisan pil-pil sakit kepala, siap melayani semua pemimpin
bangsa”

CELOTEH BURUNG NAZAR KECIL (Puisi Iverdixon Tinungki)

induknya telah memakan seribu sapi betina hamil yang kesakitan
dipatuk dengan paruhnya yang bengkok, tapi tajam seperti baja

"aku hanya memakan sisa remah di selasela rumput,
belatungbelatung dan bau busuk," rengek nazar kecil

NEGERI DONGENG CAHLIL GIBRAN (Puisi Iverdixon Tinungki)

raja dan aparatnya meminum air berancun dari sumur yang diminum rakyatnya
negeri ini jadi gila, segala yang zinah nista menjadi biasa dan lumrah
petanipetani gila bertani untuk hidup apa adanya, karena harga tak dijaga negara
nelayannelayan gila menangkap ikan lalu ditangkap tentara, karena aturan tak jelas kemana arahnya

KEPAS (Kisah Orang-orang Perbatasan: Novel) (1)


(iverdixon tinungki)
 CATATAN PERMULAAN
Tahun 1995



“Upung-upung Baroa”
berekorekor Baroa meniti tanjung
impikan benua di balik samudera
meneduhkan saga di atas ombak
melukis rupa  lelaki
telanjang gila
Kepas tanpa kafan
kelaparan  di padang kematian :
“Carilah kebenaran dengan lentera
Di siang
Di tengah terik
Di  omongkosong
Hingga dari tumpukan itu
Kau dengar suaraNya
Suara  Dia
Lelaki yang sengsara”

. 113 SAJAK BERTEMA CINTA (Puisi Iverdixon Tinungki & Video)


Surat Buat: Embun

Pernahkah engkau mengalami cinta dan kepedihan mengalir
dalam deras sungai perasaan hati yang sama. Dengan perasaan
semacam itu dapatkan kita memaknai hakikat keindahan atau
kegetiran, semisal dalam lagu-lagu Celine yang penuh harapan,
atau sayatan luka nan pedih dari keterhilangan panjang yang
mendedah jiwa dalam sajak-sajak Pascal Riou