Kelapa di hutan Karakelang hingga ke pulau-pulau sekitar menjadi gundul. Jika dipandang di waktu bulan purnama tampak seperti hantu Kabanasa dengan bulu-bulu kasar di kepalanya yang menjulang tinggi. Keadaan ini membuat orang-orang makin resah. Orang-orang mendesak Datu Mbanua menggelar Sawakka. Tapi tradisi profan magi itu sudah lama tak di gelar di kepulauan ini. Para misionery pada awal abad 19 menuding tradisi itu sebagai kekafiran. Kalangan gereja pun menentang ritual itu. Tapi meskipun dapat penentangan, Sawakka akhirnya digelar.
Saatnya pun tiba. Aku di sana ketika bunyi tambor dan breng-breng bertingkah-tingkah mungusik malam dalam rimba. Ini hari pertama. Perkemahan sudah di bangun. Mesbah ritual pun sudah tersedia. Semua itu disiapkan selama berhari-hari dengan mengikuti aturan-aturan tradisi yang ketat. Tak ada yang boleh keliru. Sebagian besar penduduk pulau ini pun ada di sana. Dari pulau-pulau lain perwakilannya juga hadir.





