Minggu, 25 September 2011

SAJAK PENEBANG BAMBU (Puisi Iverdixon Tinungki)

Segalanya ada ruas
Ruang kosong dan air
Tak ada yang lurus di bawah langit
Berbuku tempat kehidupan bercabang
Tapi yang tumbuh selalu ingin ke langit
Dan yang ke langit berjumpa angin

KERINGAT BIDADARI *) (Puisi Iverdixon Tinungki)


o ya kasiang
ia sengkatela su nusane
angkedung

dari Pyong Yang, putri Sang Iang di buang
bersama kedua orang tuanya Nio Aso
juga Sia Uw dan Ta Loo kedua saudara lelakinya
berakit bambu cina menuju utara
jauh sebelum perang manchu
moga di sana ada cinta
kerena di tanah asal perempuan dinista

KEMBAKU (sebuah sajak perang)


kepak kembaku mengaum
mengaum menuruni lembah sebelum senja
ketika malam aum itu berubah dendam
aku bertanya; siapakah empunya desau rimba
jika aku tak punya tempat gurau
seribu laut seribu gelombang hempas pesisir
seribu gelombang mengungkung bimbang
seribu gelombang memukul dada hampa
aku bertanya ; Siapakah deruh laut
jika aku tak punya tempat berlayar
siapa yang mengikatku hingga aku tak bisa pulang upungku
pulang ke jejak sejarah
selain menatap kenangan dalam diri seorang asing
terasing dari rahim beriku nafas ajariku bijaksana

SIAU *) (Puisi Iverdixon Tinungki)


meletus lobang magma
cahaya belerang merah
kepundan pongah
dua pangeran berebut tahta
melelehkan lava
menghanguskan darah
di lereng kebun pala

ini sejarah arang menyemburkan debu
menjadi kubah batu
menggilas Katutungan
melongsor dari puncak gunung
Karangetang yang terpancung
menembus Ulu menjadi padang pasir
mendidihkan hati tak jerah bertarung

AS THE SHINING STARS (sebuah Drama Musikal)


N.a.s.k.a.H

AS THE SHINING
STARS
(sebuah Drama Musikal)

Naskah: Iverdixon Tinungki


Produksi:
Sanggar Kreatif Manado

2007

Sinopsis
Jedul : As The Shining Stars
Karya : Iverdixon Tinungki

Sabtu, 24 September 2011

IRONI DARI TANAH HITAM (Puisi Iverdixon Tinungki)


adikku, aku ingin berbagi sembab denganmu:

di sini lelaki dengan bahasa gerak tubuh Marokaahe menari
orang Marind, sejarah tua kapal uap di sungai Maro
mengusung gasing Izakod Bekai Izakod Kai
seperti resital indah kisah surga di tanah hitam

harusnya waktu berada dua jam di masa depan
di Wamena, dan mata cekung orang Dani.
rasanya mundur ribuan tahun
ke belakang membawa Jayawijaya

MENTAWAI (Puisi Iverdixon Tinungki)

Di suatu hari yang muram adikku,
Uma-Uma lantak bersama ratusan mayat
saat itu baru kubaca sejarah Sekerei menjagai laut Mentawai
airmatanya berhamburan ke udara seperti buibui tua di pucuk ombak