Minggu, 30 Oktober 2011

Surat Asmara Dari Lakon Yang Belum Terpentaskan (Puisi Iverdixon Tinungki)


aku tak akan menulis apa-apa
pada lembaran berikutnya
selain surat asmara  dan cinta
pada lakon belum terpentaskan

pertunjukan berikutnya hendaklah kisah abadi
bukan kisah Romi dan Juli
ditulis  Shakespeare untuk cinta yang pedih

Surat Bosias Untukku (Puisi Iverdixon Tinungki & Video)


aku menanti lakon kedua
dengan kegembiraan sekaligus ketakutan
cinta memang menghidupkan sekaligus mematikan
engkau tunas
akar-akarnya merambat ke jiwaku
kita saling memberi menerima
hingga kidungmu meresik dalam khotbah kawinan
dan engkau melahirkan anak-anak kangen
buah persenggamahan batin
tanpa nafsu tanpa kelamin

LAKON PERTAMA (Puisi Iverdixon Tinungki & Video)


yang nyanyi
yang nangis
di atas panggung: hatiku
penat menyusur usia
panjang  mendukakan

ADEGAN DALAM OPERA AIDA

KEMEGAHAN OPERA AIDA di The Giza Pyramids, Egypt

Untuk Pejuang Kristiani (Puisi Iverdixon Tinungki)


Darimanakah aku punya kekuatan menggambar kepedihan
Di atas tumpukkan ratusan ribu mayat
Kemanakah kupilih kata yang tepat melukis duka
Di atas air mata kesah yang menggemah dari utara ke selatan
Selain doa

Buat Penyair To’et (Puisi Iverdixon Tinungki)


Aceh indah
Rancak semampai
Di tulis kau serupa anak gadis cantik
Sepulang sembahyang di musolah kampungku
Aku bertemu Tuhan Yesusku di matanya nan damai
Serupa bertemu Acehmu di syair beribu penyairmu