Kamis, 04 Juli 2013

BUNGA GANOPE (Puisi Iverdixon Tinungki)



serimba apapun pengelanaan
aku selalu tiba pada mekarmu
pulaupulau dengan halaman tanah berbatu
menumbuhi Ganope di jejak perahu

pulaupulau selalu indah
taburan warna sederhana
bungabunga Ganope merimbun
memanggil hujan melintas khatulistiwa
turun di pelepah sagu

LEMBAH SIWOGHI (puisi Iverdixon Tinungki)



kabut turun di Siwoghi
di perempatan waktu mendaki
sebuah prasasti memahati senja di Buha
orangorang dusun
menyeberangkan mimpi

andaikan pucukpucuk Daihango
berbunga putih seputih puisi
ia akan melukisi teduh lautan
tegar merendam ombak
kristal garam

antara mimpi dan keteduhan
lelakilelaki selalu turun mendayung
di kaki gunung mencuram ini
sebijak penempah sejati
membentuk cekung langit
segaris pelangi

Minggu, 09 Juni 2013

LAUT ADALAH DIRIKU (Puisi Iverdixon Tinungki)



(sebuah perjalanan pulang
dari Pulau Biaro)

masih seperti sediakala
laut adalah jendela
membiarkan malam
menyempurnakan kegelapan

di tengah kegelapan
kutemukan bayang diriku
didekapnya dalam gelombang
aku tak kehilangan asinnya

masih seperti sediakala
laut adalah hati
membiarkan cahaya
di bingkai dini hari

dalam cahaya
kutemukan hatiku
ia menuntunku
bertemu masa lalu

MALAM DI PANTAI BUANG (Puisi Iverdixon Tinungki)



serupa perahu
rindu mengapung
mendebur dan asin

pasir menggigil, sepi bertaring
menguliti jejak matahari kemarin
mengkilapkan rambutmu

berapa waktu aku tak bertemu
kecuali bertemu sepi selalu itu

KETIKA TEKUKUR PERGI (Puisi Iverdixon Tinungki)



barisan tanjung di telukteluk ini adalah Biaro
tanah kolokolo dengan kisah pekur tekukur

ketika tekukur pergi
bijibiji hitam matang gugur sendiri
betapa sepi laut melipat bumi

aku melihat sepi di sepanjang padang karang
alangalang menguning di bawah batang pandan

BAU GARAM DI LAMANGGO (puisi Iverdixon Tinungki)


aku mencium bau garam di Lamanggo
mencium pesan samudera di matamu
betapa luas bentang tantangan
di sini hidup tak lain mengasah keasinan

aku tiba di malam kental oleh cerita laut
bulan bundar bertengger di langit pulaunya
menerawang cahaya di pucuk bakau isyaratkan  risau
melaburi perjalanan anakanak gelombang ke pulau

Rabu, 03 April 2013

ANTOLOGI PUISI KLIKITONG IVERDIXON TINUNGKI (BAGIAN I)


ANTOLOGI PUISI
KLIKITONG
IVERDIXON TINUNGKI


MIANGAS
leluhur ketapang tak lupa pada Lorca
mengajar pelautnya nyanyian malam
“Los Cuatro Muleros dan Sevillanas”

sebuah monumen beton terpacak mengubur Pardao
begitu Miangas tak lupa cantiknya dimasa Las Palmas
meranggas, tak lebih sebuah pulau tapal batas

dulu kadetkadet kapal layar Spanyol adalah penari                                                           
di tengah api dinyalakan udara pasifik
rancak Vihuela De Mano dipetik semarak ombak
menyeruh seruanseruan Paradiso yang agung

pulau karang ini tak sekadar sarang gurita
cangkang siput purba dan Lumaromban
tidur di atas mite samudera khatulistiwa
tapi surga buat letih pengelana laut penjejak benua

kini barisan tambur menggerendam dek kapal
dalam kisahkisah arung menggetarkan telah karam
lisut di atas sebuah tapal menimbun sejarah pulau
kecuali kisah buram dipancarkan suar
letih meniti  makna dini hari