Anastasia, perempuan meninggalkan biara
karena merasa lebih mulia berada di padang nestapa
sebuah sungai di kota kita mengaliri ruas hati
menyejuki rumputrumput di mana beratus tubuh rebah
“kepadamu yang tidur dalam kedinginan
aku akan memberimu pelukan,”
kata perempuan
dengan seluruh keinginan mendekap kematian
ia bersenandung, menyingkap nyanyian beribu burung, turun
mengurapi kepala, tersungkur di arus kuala